Rabu, 20 Januari 2016



KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Siti Parwati
Jurusan Administrasi Pendidikan

Abstrak: Dalam pengelolaan sekolah, kepala sekolah memiliki peranan yang sangat penting diantaranya sebagai Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Pencipta Iklim Kerja, dan Wirausahawan. Diantara semua peranan, seharusnya kepala sekolah lebih mementingkan peran dalam kepemimpinan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran dilakukan dengan terus mendorong para guru untuk selalu belajar karena keberhasilan kepala sekolah dalam mendorong para guru akan mewujudkan guru yang profesional. Dampak dari guru yang profesional akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompetensi tinggi sehingga siap bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Kata Kunci: Kepemimpinan Pembelajaran, MEA.

Pendahuluan
Membangun konsep pendidikan sangatlah diperlukan untuk menghadapi pasar bebas atau biasa disebut dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Saat ini Indonesia sudah tertinggal dalam dengan negara-negara yang ada di Asean karena kebanyakan dari negara-negara tersebut sudah mempersiapkan kedatangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diperlukan pembaharuan di bidang pendidikan sebab pendidikan merupakan bekal utama yang akan digunakan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).  Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mendukung pembaruan pendidikan salah satunya adalah dengan merubah kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Namun disisi lain seharusnya pemerintah juga harus memperhatikan peran komponen pendidikan yang harus dimaksimalkan guna menghasilkan SDM yang berkualitas. Salah satu komponen pendidikan di tingkat dasar dan menengah yaitu dilakukan oleh kepala sekolah.
Peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, nampaknya sangat strategis apabila dijadikan sebagai pembaruan dalam komponen pendidikan sesuai dengan Permendiknas Nomor 35 tahun 2010. Kepemimpinan pembelajaran yang efektif dari kepala sekolah akan mewujudkan suasana akademik yang mendukung pencapaian tujuan sekolah. Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Penggunaan model kepemimpinan yang cocok untuk diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajaran karena dengan kepemimpinan pembelajaran yang efektif dapat  meningkatkan profesionalisme pendidik. Dengan adanya pendidik yang profesional akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas yang siap menghadapi persaingan di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Bush & Glover (dalam Wardani, 2015) mendefinisikan standar profesional sebagai pengetahuan penting yang dibutuhkan, keterampilan dan sikap di mana seluruh guru memiliki kemampuan untuk mendemonstrasikannya.

PEMBAHASAN
Pengertian Kepemimpinan Pembelajaran
Menurut Wardani (2015), kepemimpinan pembelajaran merupakan kepemimpinan yang memfokuskan atau menekankan pada pembelajaran. Komponen-komponen kepemimpinan pembelajaran meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Sedangkan menurut Greenfield (dalam Kusmintardjo, 2014), kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) adalah tindakan yang dilakukan dengan maksud mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru, serta mengembangkan kondisi dan hasil belajar yang diinginkan siswa.
Soutworth (dalam Wardani, 2015) menyatakan bahwa kepemimpinan pembelajaran adalah perhatian yang kuat terhadap pengajaran dan pembelajaran, termasuk pembelajaran profesional oleh guru sesuai perkembangan siswa. Strategi untuk meningkatkan pembelajaran secara efektif menurut Wardani (2015) yaitu: (1) modeling, artinya keteladanan kepala sekolah menjadi contoh atau model yang ditiru oleh guru di sekolah yang dipimpinnya; (2) monitoring; artinya melakukan pemantauan kinerja guru ke kelas saat guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas serta memanfaatkan hasil pemantauan tersebut untuk pembinaan lebih lanjut dan (3) professional dialog and discussion, artinya membicarakan secara aktif, interaktif, efektif, aspiratif, inspiratif, produktif, demokratik dan ilmiah tentang hasil penilaian kinerja dan rencana tindak lanjut peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.

Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran
            Kepemimpinan pembelajaran memiliki tujuan yang berkaitan dengan perannya sebagai kepala sekolah. Ada tujuh peran kepala sekolah menurut Depdiknas (dalam Asmani, 2012: 36), diantaranya:
1.    Kepala sekolah sebagai Educator (Pendidik), kepala sekolah menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum serta kegiatan belajar mengajar di sekolahnya, tentu saja, akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki guru-gurunya sekaligus akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensi mereka, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.
2.    Kepala sekolah sebagai Manajer, dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu yang harus dijalankan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah (misalnya MGM/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi professional, dan sebagainya) maupun diluar sekolah (misalnya dengan memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain).
3.    Kepala sekolah sebagai Administrator, khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, maka untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak terlepas dari factor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru, akan mempengaruhi tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu, kepala sekolah seharusnya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi para guru.
4.    Kepala sekolah sebagai Supervisor, untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala, kepalas ekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran (tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan), selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan, dan tindak lanjut tertentu, sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
5.    Kepala sekolah sebagai Leader (Pemimpin), dalam teori kepemimpinan ada dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Apa pun orientasi dari suatu kepemimpinan, berkaitan dengan kepribadian yang tercermin dalam sifat-sifat jujur, percaya diri, tanggungjawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, serta teladan.
6.    Kepala sekolah sebagai Pencipta Iklim Kerja, budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, disertai usaha guna meningkatkan kompetensi.
7.    Kepala sekolah sebagai Wirausahawan, dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausahawan yang dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seharusnya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah, dengan sikap kewirausahawan yang kuat, akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.
Selain itu, kepemimpinan pembelajaran juga sangatlah penting untuk diterapkan di sekolah karena kepemimpinan pembelajaran merupakan suatu langkah yang berperan guna menciptakan SDM (peserta didik) yang berkompeten. Adapun kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan di sekolah menurut Wardani (2015) adalah karena mampu: (1) meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara signifikan; (2) mendorong dan mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik; (3) memfokuskan kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; dan (4) membangun komunitas belajar warga dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah pembelajar (learning school).

Strategi Kepemimpinan Pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran yang efektif menurut Willison (dalam Usman, 2013) menyatakan tiga cara untuk menjadi kepemimpinan pembelajaran efektif yaitu: (1) talk the talk; (2) walk the walk; dan (3) be the caddy. Talk to talk artinya banyak berdialog dan diskusi tentang pe ngembangan keprofesian berkelanjutan guru. Walk the walkartinya sering berkunjung ke kelas memantau proses pembelajaran di kelas. Be the caddy artinya membantu guru menggunakan sarana dan prasarana pembelajaran secara profesional.
Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melakukan pembinaan profesionalisme guru, Kunandar (dalam Wardani, 2015):
1. Mendengar (listening), yang dimaksud dengan mendengar adalah kepala sekolah mendengarkan apa saja yang dikemukakan oleh guru, bisa berupa kelemahan, kesulitan, kesalahan, masalah dan apa saja yang dialami oleh guru, termasuk yang ada kaitannya dengan peningkatan profesionalisme guru.
2. Mengklarifikasi (clarifying), yang dimaksud klarifikasi adalah kepala sekolah memperjelas mengenai apa yang dimaksudkan oleh guru. Jika pada mendengar (pointa) di atas, kepala madrasah mendengar mengenai apa saja yang dikemukakan oleh guru, maka dalam mengklarifikasi ini kepala madrasah memperjelas apa yang diinginkan oleh guru dengan menanyakan kepadanya.
3. Mendorong (Encouraging), yang dimaksud dengan mendorong adalah kepala madrasah mendorong kepada guru agar mau mengemukakan kembali mengenai sesuatu hal bilamana masih dirasakan belum jelas.
4. Mempresentasikan (presenting), yang dimaksud dengan mempresentasikan adalah kepala madrasah mencoba mengemukakan persepsi-nya mengenai apa yang dimaksudkan oleh guru.
5. Memecahkan masalah (problem solving), yang dimaksud dengan memecahkan masalah adalah kepala madrasah bersama-sama dengan guru memecahkan masalahmasalah yang dihadapi oleh guru.
6. Negosiasi (negotiating), yang dimaksud dengan negosiasi adalah berunding. Dalam berunding, kepala madrasah dan guru membangun kesepakatan-kesepakatan mengenai tugas yang harus dilakukan masing-masing atau bersama-sama.
7. Mendemonstrasikan (demonstrating), yang dimaksud dengan mendemonstrasikan adalah kepala madrasah mendemonstrasikan tampilan tertentu dengan maksud agar dapat diamati dan ditirukan oleh guru.
8. Mengarahkan (directing), yang dimaksud dengan mengarahkan adalah kepala madrasah mengarahkan agar guru melakukan hal-hal tertentu.
9. Menstandarkan (standardization), yang dimaksud dengan menstandarkan adalah kepala madrasah mengadakan penyesuaian –penyesuaian bersama dengan guru.
10.Memberikan penguat (Reinforcing), yang dimaksudkan memberikan penguat adalah kepala madrasah menggambarkan kondisi-kondisi yang menguntungkan bagi pembinaan guru.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan penerapan pasar bebas yang di bentuk oleh negara-negara ASEAN. Semua negara-negara yang berada atau menjadi anggota ASEAN termasuk Indonesia wajib menerapkannya. Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maka harus disiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, terutama untuk menyiapkan kualitas siswa yang baik maka potensi guru yang perlu dikembangkan. Oleh sebab itu dunia pendidikan sejak awal sudah harus mempersiapkan diri terutama para guru harus mempunyai kualitas tinggi dan kapabilitas supaya terbentuk SDM (peserta didik) yang siap bersaing di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).  
Menghadapi komunitas masyarakat ASEAN, tidak menutup peluang terjadi persaingan tenaga kerja antar negara termasuk di sektor pendidikan. Persaingan yang kompetitif dalam pasar tenaga kerja dan pasar output, mensyaratkan anggota komunitas menyediakan produk yang berkualitas dengan harga yang bersaing. Pencapaian tersebut akan terpenuhi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, ketersediaan dan kelayakan infrastruktur, regulasi yang mendukung iklim usaha, dukungan pemerintah serta kepastian hukum. Sektor pendidikan diharapkan sebagai penopang terbentuknya SDM unggul, utamanya di jenjang sekolah dasar dan menengah. Peran guru melalui pembelajaran dapat meletakkan landasan yang kuat untuk mengembangkan diri ke jenjang berikutnya. Untuk itu, profesionalitas guru merupakan keniscayaan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Kesimpulan
Kepemimpinan pembelajaran menurut Greenfield (dalam Kusmintardjo, 2014), kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) adalah tindakan yang dilakukan dengan maksud mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru, serta mengembangkan kondisi dan hasil belajar yang diinginkan siswa. Dengan kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah yang baik, akan dihasilkan guru yang profesional dan guru yang profesional berdampak pada pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yakni peserta didik di sekolah. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas akan menjadi bekal untuk bersaing di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Daftar Rujukan
Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Tips Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Jogjakarta: DIVA Press.

Kusmintardjo. 2014. Kepemimpinan Pembelajaran Oleh Kepala Sekolah. Jurnal Ilmu Pendidikan, 24 (3): 203-212.

Usman, Husaini & Nuryadin Eko Raharjo. 2013. Strategi Kepemimpinan Pembelajaran Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Cakrawala Pendidikan, 32 (1). (Online), (http://www.academia.edu/3441892/STRATEGI_KEPEMIMPINAN_PEMBELAJARAN_MENYONGSONG_IMPLEMENTASI_KURIKULUM_2013), diakses 11 Desember 2015.

Wardani, Dewi Kusuma & Mintasih Indriayu. 2015. Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Seminar. (Online), (http://eprints.uny.ac.id/21973/1/61%20Dewi%20Kusuma%20Wardani%20%26%20Mintasih%20Indriayu.pdf), diakses 11 Desember 2015.




0 komentar:

Posting Komentar

 
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul:
Ditulis Oleh
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih