KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN DALAM
MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Siti
Parwati
Jurusan
Administrasi Pendidikan
Abstrak: Dalam
pengelolaan sekolah, kepala sekolah memiliki peranan yang sangat penting
diantaranya sebagai Educator, Manager, Administrator, Supervisor,
Leader, Pencipta Iklim Kerja, dan
Wirausahawan. Diantara semua peranan, seharusnya kepala sekolah lebih
mementingkan peran dalam kepemimpinan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran
dilakukan dengan terus mendorong para guru untuk selalu belajar karena
keberhasilan kepala sekolah dalam mendorong para guru akan mewujudkan guru yang
profesional. Dampak dari guru yang profesional akan menghasilkan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkompetensi tinggi sehingga siap bersaing dalam menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Kata Kunci: Kepemimpinan
Pembelajaran, MEA.
Pendahuluan
Membangun konsep pendidikan sangatlah
diperlukan untuk menghadapi pasar bebas atau biasa disebut dengan Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA). Saat ini Indonesia sudah tertinggal dalam dengan
negara-negara yang ada di Asean karena kebanyakan dari negara-negara tersebut
sudah mempersiapkan kedatangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Untuk menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diperlukan pembaharuan di bidang pendidikan
sebab pendidikan merupakan bekal utama yang akan digunakan dalam menghadapi Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA). Upaya yang
dilakukan pemerintah untuk mendukung pembaruan pendidikan salah satunya adalah
dengan merubah kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Namun disisi lain
seharusnya pemerintah juga harus memperhatikan peran komponen pendidikan yang
harus dimaksimalkan guna menghasilkan SDM yang berkualitas. Salah satu komponen
pendidikan di tingkat dasar dan menengah yaitu dilakukan oleh kepala sekolah.
Peran kepala sekolah sebagai pemimpin
pembelajaran, nampaknya sangat strategis apabila dijadikan sebagai pembaruan
dalam komponen pendidikan sesuai dengan Permendiknas Nomor 35 tahun 2010.
Kepemimpinan pembelajaran yang efektif dari kepala sekolah akan mewujudkan
suasana akademik yang mendukung pencapaian tujuan sekolah. Kepemimpinan
merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah.
Penggunaan model kepemimpinan yang cocok untuk diterapkan di sekolah adalah
kepemimpinan pembelajaran karena dengan kepemimpinan pembelajaran yang efektif dapat
meningkatkan profesionalisme pendidik.
Dengan adanya pendidik yang profesional akan dihasilkan peserta didik yang
berkualitas yang siap menghadapi persaingan di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Bush
& Glover (dalam Wardani, 2015) mendefinisikan standar profesional sebagai
pengetahuan penting yang dibutuhkan, keterampilan dan sikap di mana seluruh
guru memiliki kemampuan untuk mendemonstrasikannya.
PEMBAHASAN
Pengertian Kepemimpinan
Pembelajaran
Menurut
Wardani (2015), kepemimpinan pembelajaran merupakan kepemimpinan yang
memfokuskan atau menekankan pada pembelajaran. Komponen-komponen kepemimpinan
pembelajaran meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian, pengembangan
guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di
sekolah. Sedangkan menurut Greenfield (dalam Kusmintardjo, 2014), kepemimpinan
pembelajaran (instructional leadership) adalah tindakan yang dilakukan
dengan maksud mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan
memuaskan bagi guru, serta mengembangkan
kondisi dan hasil belajar yang diinginkan siswa.
Soutworth
(dalam Wardani, 2015) menyatakan bahwa kepemimpinan pembelajaran adalah perhatian
yang kuat terhadap pengajaran dan pembelajaran, termasuk pembelajaran profesional
oleh guru sesuai perkembangan siswa. Strategi untuk meningkatkan pembelajaran
secara efektif menurut Wardani (2015) yaitu: (1) modeling, artinya
keteladanan kepala sekolah menjadi contoh atau model yang ditiru oleh guru di
sekolah yang dipimpinnya; (2) monitoring; artinya melakukan pemantauan
kinerja guru ke kelas saat guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas serta
memanfaatkan hasil pemantauan tersebut untuk pembinaan lebih lanjut dan (3) professional
dialog and discussion, artinya membicarakan secara aktif, interaktif,
efektif, aspiratif, inspiratif, produktif, demokratik dan ilmiah tentang hasil
penilaian kinerja dan rencana tindak lanjut peningkatan mutu proses dan hasil
pembelajaran siswa.
Tujuan
Kepemimpinan Pembelajaran
Kepemimpinan
pembelajaran memiliki tujuan yang berkaitan dengan perannya sebagai kepala
sekolah. Ada tujuh peran kepala sekolah menurut Depdiknas (dalam Asmani, 2012: 36), diantaranya:
1. Kepala sekolah sebagai Educator (Pendidik), kepala
sekolah
menunjukkan
komitmen
tinggi
dan
fokus terhadap pengembangan kurikulum serta kegiatan belajar mengajar di sekolahnya, tentu
saja, akan
sangat
memperhatikan
tingkat
kompetensi yang dimiliki
guru-gurunya sekaligus akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat
secara
terus
menerus
meningkatkan
kompetensi
mereka, sehingga
kegiatan
belajar
mengajar
dapat
berjalan
efektif
dan
efisien.
2. Kepala sekolah sebagai Manajer, dalam
mengelola
tenaga
kependidikan, salah
satu yang harus
dijalankan
kepala
sekolah
adalah
melaksanakan
kegiatan
pemeliharaan
dan
pengembangan
profesi
para guru melalui
kegiatan
pendidikan
dan
pelatihan, baik yang
dilaksanakan di sekolah (misalnya MGM/MGP tingkat
sekolah, in house training, diskusi
professional, dan
sebagainya) maupun
diluar
sekolah (misalnya
dengan
memberikan
kesempatan
melanjutkan
pendidikan
atau
mengikuti
berbagai
kegiatan
pelatihan yang
diselenggarakan pihak lain).
3. Kepala sekolah sebagai Administrator, khususnya
berkenaan
dengan
pengelolaan
keuangan, maka
untuk
tercapainya
peningkatan
kompetensi guru tidak
terlepas
dari
factor
biaya. Seberapa
besar
sekolah
dapat
mengalokasikan
anggaran
peningkatan
kompetensi guru, akan
mempengaruhi
tingkat
kompetensi
para
gurunya. Oleh
karena
itu, kepala
sekolah
seharusnya
dapat
mengalokasikan
anggaran yang memadai
bagi
upaya
peningkatan
kompetensi
para guru.
4. Kepala sekolah sebagai Supervisor, untuk
mengetahui
sejauh
mana guru mampu
melaksanakan
pembelajaran, secara
berkala, kepalas
ekolah
perlu
melaksanakan
kegiatan
supervisi yang dapat
dilakukan
melalui
kegiatan
kunjungan
kelas
untuk
mengamati proses
pembelajaran secara langsung, terutama
dalam
pemilihan
dan
penggunaan
metode, media yang
digunakan, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam
melaksanakan
pembelajaran (tingkat
penguasaan
kompetensi guru yang
bersangkutan), selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan, dan
tindak
lanjut
tertentu, sehingga guru dapat
memperbaiki
kekurangan yang ada
sekaligus
mempertahankan
keunggulannya
dalam
melaksanakan
pembelajaran.
5. Kepala sekolah sebagai Leader (Pemimpin), dalam
teori
kepemimpinan
ada
dua
gaya
kepemimpinan
yaitu
kepemimpinan yang
berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi
pada
manusia. Dalam
rangka
meningkatkan
kompetensi guru, seorang
kepala
sekolah
dapat
menerapkan
kedua
gaya
kepemimpinan
tersebut
secara
tepat
dan
fleksibel
sesuai
dengan
kondisi
dan
kebutuhan yang ada. Apa pun
orientasi dari suatu kepemimpinan, berkaitan
dengan
kepribadian yang tercermin
dalam
sifat-sifat
jujur, percaya
diri, tanggungjawab, berani
mengambil
resiko
dan
keputusan, berjiwa
besar, emosi yang stabil,
serta teladan.
6. Kepala sekolah sebagai Pencipta Iklim Kerja, budaya dan iklim kerja yang kondusif
akan
memungkinkan
setiap guru lebih
termotivasi
untuk
menunjukkan
kinerjanya
secara
unggul, disertai
usaha
guna
meningkatkan
kompetensi.
7. Kepala sekolah sebagai Wirausahawan, dalam
menerapkan
prinsip-prinsip
kewirausahawan yang
dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka
kepala
sekolah
seharusnya
dapat
menciptakan
pembaharuan, keunggulan
komparatif, serta
memanfaatkan
berbagai
peluang. Kepala
sekolah, dengan
sikap
kewirausahawan yang kuat,
akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya,
termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan
dengan proses pembelajaran
siswa
beserta
kompetensi
gurunya.
Selain itu, kepemimpinan pembelajaran
juga sangatlah penting untuk diterapkan di sekolah karena kepemimpinan
pembelajaran merupakan suatu langkah yang berperan guna menciptakan SDM
(peserta didik) yang berkompeten. Adapun kepemimpinan pembelajaran sangat penting
untuk diterapkan di sekolah menurut Wardani (2015) adalah karena mampu: (1)
meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara signifikan; (2) mendorong
dan mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta
didik; (3) memfokuskan kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian
visi, misi, dan tujuan sekolah; dan (4) membangun komunitas belajar warga dan
bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah pembelajar (learning school).
Strategi Kepemimpinan
Pembelajaran
Kepemimpinan
pembelajaran yang efektif menurut Willison (dalam Usman, 2013) menyatakan tiga
cara untuk menjadi kepemimpinan pembelajaran efektif yaitu: (1) talk the
talk; (2) walk the walk; dan (3) be the caddy. Talk
to talk artinya banyak berdialog dan diskusi tentang pe ngembangan
keprofesian berkelanjutan guru. Walk the walkartinya sering berkunjung
ke kelas memantau proses pembelajaran di kelas. Be the caddy artinya
membantu guru menggunakan sarana dan prasarana pembelajaran secara profesional.
Ada
beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melakukan
pembinaan profesionalisme guru, Kunandar (dalam Wardani, 2015):
1. Mendengar (listening),
yang dimaksud dengan mendengar adalah kepala sekolah mendengarkan apa saja yang
dikemukakan oleh guru, bisa berupa kelemahan, kesulitan, kesalahan, masalah dan
apa saja yang dialami oleh guru, termasuk yang ada kaitannya dengan peningkatan
profesionalisme guru.
2.
Mengklarifikasi (clarifying), yang dimaksud klarifikasi adalah kepala
sekolah memperjelas mengenai apa yang dimaksudkan oleh guru. Jika pada
mendengar (pointa) di atas, kepala madrasah mendengar mengenai apa saja yang
dikemukakan oleh guru, maka dalam mengklarifikasi ini kepala madrasah
memperjelas apa yang diinginkan oleh guru dengan menanyakan kepadanya.
3. Mendorong (Encouraging),
yang dimaksud dengan mendorong adalah kepala madrasah mendorong kepada guru
agar mau mengemukakan kembali mengenai sesuatu hal bilamana masih dirasakan
belum jelas.
4.
Mempresentasikan (presenting), yang dimaksud dengan mempresentasikan
adalah kepala madrasah mencoba mengemukakan persepsi-nya mengenai apa yang
dimaksudkan oleh guru.
5. Memecahkan
masalah (problem solving), yang dimaksud dengan memecahkan masalah
adalah kepala madrasah bersama-sama dengan guru memecahkan masalahmasalah yang
dihadapi oleh guru.
6. Negosiasi (negotiating),
yang dimaksud dengan negosiasi adalah berunding. Dalam berunding, kepala
madrasah dan guru membangun kesepakatan-kesepakatan mengenai tugas yang harus
dilakukan masing-masing atau bersama-sama.
7.
Mendemonstrasikan (demonstrating), yang dimaksud dengan
mendemonstrasikan adalah kepala madrasah mendemonstrasikan tampilan tertentu
dengan maksud agar dapat diamati dan ditirukan oleh guru.
8. Mengarahkan (directing),
yang dimaksud dengan mengarahkan adalah kepala madrasah mengarahkan agar guru
melakukan hal-hal tertentu.
9. Menstandarkan
(standardization), yang dimaksud dengan menstandarkan adalah kepala
madrasah mengadakan penyesuaian –penyesuaian bersama dengan guru.
10.Memberikan
penguat (Reinforcing), yang dimaksudkan memberikan penguat adalah kepala
madrasah menggambarkan kondisi-kondisi yang menguntungkan bagi pembinaan guru.
Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA)
Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) merupakan penerapan pasar bebas yang di bentuk oleh
negara-negara ASEAN. Semua negara-negara yang berada atau menjadi anggota ASEAN
termasuk Indonesia wajib menerapkannya. Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) maka harus disiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, terutama
untuk menyiapkan kualitas siswa yang baik maka potensi guru yang perlu
dikembangkan. Oleh sebab itu dunia pendidikan sejak awal sudah harus
mempersiapkan diri terutama para guru harus mempunyai kualitas tinggi dan
kapabilitas supaya terbentuk SDM (peserta didik) yang siap bersaing di
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Menghadapi
komunitas masyarakat ASEAN, tidak menutup peluang terjadi persaingan tenaga
kerja antar negara termasuk di sektor pendidikan. Persaingan yang kompetitif
dalam pasar tenaga kerja dan pasar output, mensyaratkan anggota komunitas menyediakan
produk yang berkualitas dengan harga yang bersaing. Pencapaian tersebut akan
terpenuhi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan
kelembagaan, ketersediaan dan kelayakan infrastruktur, regulasi yang mendukung
iklim usaha, dukungan pemerintah serta kepastian hukum. Sektor pendidikan diharapkan
sebagai penopang terbentuknya SDM unggul, utamanya di jenjang sekolah dasar dan
menengah. Peran guru melalui pembelajaran dapat meletakkan landasan yang kuat
untuk mengembangkan diri ke jenjang berikutnya. Untuk itu, profesionalitas guru
merupakan keniscayaan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Kesimpulan
Kepemimpinan
pembelajaran menurut Greenfield (dalam Kusmintardjo, 2014), kepemimpinan
pembelajaran (instructional leadership) adalah tindakan yang dilakukan
dengan maksud mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan
memuaskan bagi guru, serta mengembangkan
kondisi dan hasil belajar yang diinginkan siswa. Dengan kepemimpinan
pembelajaran kepala sekolah yang baik, akan dihasilkan guru yang profesional
dan guru yang profesional berdampak pada pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yakni
peserta didik di sekolah. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas akan
menjadi bekal untuk bersaing di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Daftar
Rujukan
Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Tips Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Jogjakarta:
DIVA Press.
Kusmintardjo.
2014. Kepemimpinan Pembelajaran Oleh Kepala Sekolah. Jurnal Ilmu Pendidikan, 24 (3): 203-212.
Usman,
Husaini & Nuryadin Eko Raharjo. 2013. Strategi Kepemimpinan Pembelajaran
Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Cakrawala
Pendidikan, 32 (1). (Online), (http://www.academia.edu/3441892/STRATEGI_KEPEMIMPINAN_PEMBELAJARAN_MENYONGSONG_IMPLEMENTASI_KURIKULUM_2013), diakses 11 Desember 2015.
Wardani, Dewi Kusuma &
Mintasih Indriayu. 2015. Kepemimpinan
Pembelajaran Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru Menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean. Seminar. (Online),
(http://eprints.uny.ac.id/21973/1/61%20Dewi%20Kusuma%20Wardani%20%26%20Mintasih%20Indriayu.pdf), diakses 11 Desember 2015.
0 komentar:
Posting Komentar