Minggu, 20 Maret 2016

Makalah Pendekatan Perencanaan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Untuk memulai suatu kegiatan pasti diawali dengan suatu perencanaan, tanpa adanya perencanaan maka tidak akan ada kegiatan. Perencanaan merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Begitu juga dengan sistem pendidikan, didalam pendidikan juga sangat diperlukan perencanaan. Perencanaan menurut M. Fakry dalam (Udin, 2011:4) diartikan sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan. Perencanaan dapat pula diartikan sebagai upaya untuk memadukan antara cita-cita nasional dan resources yang tersedia yang diperlukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Oleh karena perencanaan memerlukan beberapa pendekatan agar perencanaan tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan atau dikehendaki. Adapun pendekatan perencanaan tersubut akan penulis uraikan didalam makalah ini.


B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana pendekatan yang ada didalam perencanaan pendidikan?

C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui pendekatan perencanaan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pendekatan Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pada hakikatnya adalah proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif (pilihan) mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang akan dikehendaki serta pemantaun dan penilainya atas hasil pelaksanaanya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Menurut Fiki Pornadi (2014:7) Perencanaan pendidikan adalah “suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang harus diambil dan mempunyai konsistensi internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain dalam rangka mencapai tujuan bersama yakni tujuan pendidikan nasional”. Didalam perencanaan pendidikan terdapat pula pendekatan perencanaan pendidikan. Pendekatan perencanaan pendidikan terbagi menjadi tiga yaitu:
1.    Pendekatan Kebutuhan Sosial
Pedekatan kebutuhan sosial menitikberatkan pada tujuan pendidikan yang mengandung misi pembebasan bagi negara-negara berkembang yang kemerdekaannya baru saja diperoleh setelah melalui perjuangan pembebasan yang amat lama. Pendidikan kebutuhan sosial dapat diartikan pendekatan dalam perencanaan pendidikan yang didasarkan atas tuntutan atau kebutuhan sosial akan pendidikan.
Dengan melihat karakteristik tuntutan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan ini lebih menekankan pemerataan kesempatan atau kuantitatif. Karena itu pendidikan dasar merupakan prioritas utama yang harus diberikan kepada setiap anak usia SD. Kewajiban belajar merupakan manifestasi dari tuntutan sosial ini untuk membebaskan populasi usia sekolah dari tuna aksara. Target yang harus dicapai adalah pembebasan yang dari tuna aksara atau free from illiteracy. Yang dimaksud dengan pendekatan sosial ini menurut A. W. Guruge (dalam Udin, 2011:234) adalah pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan-tekanan untuk memasukkan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada pemenuhan keinginan-keinginan murid dan orang tuanya secara bebas.
Langkah yang perlu diperhatikan jika pendekatan ini dilaksanakan yaitu perencana pendidikan harus memperkirakan kebutuhan pada masa yang akan datang dengan menganalisa beberapa hal berikut. Adapun beberapa analisa tentang pendekatan sosial (Udin, 2011:235) yaitu: (a) pertumbuhan penduduk, (b) partisipasi dalam pendidikan, (c) arus murid daari kelas satu ke kelas yang lebih tinggi dan dari satu tingkat ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, (d) pilihan atau keinginan masyarakat dari individu tentang jenis-jenis pendidikan.

Selanjutnya para perencana diminta untuk merencanakan penggunakan tenaga dan fasilitas yang ada secara optimal dan memobilisasikan dana dan daya agar supaya permintaan masyarakat terhadap pendidikan menjadi terpenuhi.
Pendekatan seperti ini sukar diukur serta diteliti, kecuali untuk negara yang sudah melaksanakan undang-undang kewajiban belajar serta mempunyai data demografi baik (lengkap) atau adanya kebijakan pemerintah. Kelemahan pendekatan permintaan masyarakat ini dapat disebutkan antara lain (Udin, 2011:235) yaitu: (a) pendidikan ini mengabaikan alokasi sumber-sumber dalam skala nasional dan secara implisit tidak mempersoalkan berapa besar sumber yang diperuntukkan bagi pendidikan, karena beranggapan bahwa penggunaan sumber-sumber itulah yang terbaik bagi pembangunan bangsa, (b) pendekatan ini mengabaikan ciri-ciri dan pola kebutuhan man power yang diperlukan disektor kehidupan ekonomi, dengan demikian akan cenderung menghasilkan tamatan yang sebenarnya kurang diperlukan dan justru akan kekurangan jenis tamatan yang dibutuhkan, (c) pendekatan ini cenderung berlaku menjawab tuntutan saja, sehingga mengabaikan pertimbangan pembiayaan, sehingga pemerataan sumber-sumber itu menjadi kecil akibatnya tuntutan kualitas dan efektivitas pendidikan tidak tercapai yang berarti pemborosan.

2.    Pendekatan Kebutuhan Ketenagakerjaan
Yang dimaksud dengan pendekatan ketenagakerjaan (man power approaches) menurut A. W. Guruge (dalam Udin, 2011:239) pendekatan ini bertujuan mengarahkan kegiatan pendidikan kepada usaha untuk memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga kerja (man power atau person power). Pada tahap permulaan pembangunan dimana diperlukan banyak tenaga kerja dari segala tingkatan dan berbagai jenis keahlian, kebanyakan negara mengharapkan supaya pendidikan mempersiapkan dan menghasilkan tenaga kerja yang terampil untuk pembangunan dalam sektor pertanian, industri, perdagangan dan seterusnya, dan juga untuk calon pemimpin yang cerdas dan profesinya. Perencanaan pendidikan dalam hal ini diharapkan dapat memberikan keyakinan penyediaan fasilitas dan pengarahan arus murid benar-benar didasarkan atas perkiraan kebutuhan tenaga kerja. Akan tetapi metode-metode untuk memperkirakan kebutuhan tenaga kerja perlu ditetapkan atau dibuat terlebih dahulu sesuai dengan kepentingan dan kondisi negara yang bersangkutan.
Pendekatan ini mengutamakan kepada keterkaitan lulusan sistem pendidikan dengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sektor pembangunan seperti sektor ekonomi, pertanian, perdagangan dan industri. Tujuan yang akan dicapai adalah bahwa penndidikan itu diperlukan untuk membantu lulusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik hingga tingkat kehidupannya dapat diperbaiki melalui penghasilan sangat appealing karena dikaitkan langsung dengan usaha pemenuhan kebutuhan dasar setiap orang. Karena itu tekanan utama adalah relevancy program pendidikan dengan berbagai sektor pembangunan dilihat dari pemenuhan ketenagaan. Untuk memenuhi tuntutan relevancy seperti disebutkan diatas, kurikulum dikembangkan sedemikian rupa hingga lulusan yang merupakan output sistem pendidikan siap pakai di lapangan. Kelemahan pendekatan ini adalah dalam pengembangan program yang relevan. Jenis kerja, persyaratan kerja, klasifikasi kerja, tingkat kerja amat tidak pasti dan perubahan amat cepat, sedangkan pendidikan adalah proses jangka lama yang menghendaki ketelitian dan kecermatan. Kesukaran lain adalah pendidikan yang tidak langsung berkaitan dengan dunia kerja tidak mendapat prioritas, dan pendidikan dengan pembebasannya itu akan dikesampingkan dan ini secara politis akan menimbulkan kesukaran pula.
Masalah yang timbul dalam perencanaan tenaga kerja terutama bagi negara yang sedang berkembang seperti indonesia, antara lain dalam: “(a) jenis dan jumlah lapangan kerja, (b) persyaratan yang jelas mengenai mutu personil yang dituntut oleh pasaran tenaga kerja, (c) perbandingan jumlah personil berdasarkan jenjang keahlian, (d) kebutuhan yang riil akan tenaga kerja”. (Udin, 2011:242)
Dengan adanya pengalaman dari beberapa negara, maka M. H. Philip dalam (Udin, 2011:242) mengadakan kritikan terhadap pendekatan kebutuahan tenaga kerja, sebagai berikut: (a) perkiraan kebutuhan tenaga kerja biasanya hanya berlaku (tetap reliable) untuk jangka 5-8 tahun, sedangkan waktu yang dibutuhkan oleh suatu siklus pendidikan untuk menghasilkan tenaga kerja biasanya berkisar antara 15-20 tahun. Dengan demikian sukar diperoleh perhitungan yang pasti dalam hubungan antara kebutuhan tenaga kerja dengan output pendidikan, (b) tuntutan pendidikan untuk sesuatu lapangan kerja berubah-ubah sesuai dengan kemajuan dibidang teknologi dan standar pendidikan itu sendiri, (c) terlalu menitikberatkan pada kebutuhan tenaga kerja, sedang tujuan-tujuan sosial, demokrasi, kulturaal kurang mendapat perhatian.
Dengan menggunakan pendekatan tadi berusaha mencari keseimbangan antara lapangan kerja yang tersedia atau akan tersedia di masa depan dengan jumlah murid yang diizinkan memasuki jalur pendidikan yang dengan permintaan lapangan kerja itu.

3.    Pendekatan Efisiensi Biaya
Pendekatan ini adalah bersifat ekonomi dan berpangkal dari konsep Invesment in Human Capital atau investasi pada sumber daya manusia. Pendidikan memerlukan investasi yang besar dan karena itu keuntungan dari investasi tersebut harus dapat diperhitungkan bilamana pendidikan itu memang mempunyai nilai ekonomi. Pendidikan secara konseptual tampaknya tidak diragukan lagi mempunyai nilai ekonomi artinya pendidikan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, walaupun para ahli ekonomi mengalami kesukaran secara nyata dan pasti dalam mengukur besarnya kontribusi tersebut, karena sifat dan ciri pendidikan yang komplek itu. Keterkaitan ekonomi dengan pendidikan dapat diterangkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi seperti tenaga kerja, pengetahuan, dan teknologi. Faktor-faktor hanya dapat diwujudkan dengan masuknya peran pendidikan melalui human factor, bukan oleh ekonomi. Berdasarkan uraian diatas, pendekatan untung rugi mempunyai implikasi sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu program pendidikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi menempati urutan atau prioritas penting. Menurut Guruge (1972) yang dimaksud dengan pendekatan efisiensi investasi adalah besarnya investasi dalam dunia pendidikan sesuai dengan hasil, keuntungan atau efektivitas yang akan diperoleh”. (Udin, 2011:247).
Didalam pendekatan ini, bukan saja biaya keseluruhan pendidikan tetapi juga biaya suatu jenjang atau jenis pendidikan tertentu selalu dibandingkan dengan nilai hasil misalnya kenaikan pendapatan atau kenaikan produktivitas orang-orang yang sudah memperoleh pendidikan itu. Tugas perencanaan adalah menghindarkan investasi (dalam setiap tingkat dan jenis pendidikan) yang tidak memberikan hasil yang sepadan. Pendekatan ini disebut pula dengan pendekatan Rate Of Education, tujuannya untuk mengukur pendidikan dari sudut hasil atau keuntungan yangdiperoleh. Jika suatu jenis pendidikan tertentu menghasilkan return (produksi, jasa keuntungan) yang jauh lebih besar dari input biaya yang dipakai untuk jenis pendidikan ini harus terus dikembangkan.jika tidak menguntungkan sebaiknya perlu dipikirkan apakah jenis pendidikan itu perlu dilanjutkan atau tidak.
Timbulnya pendekatan ini didalam perncanaan pendidikan dapat dijelaskan antara antara lain: sekelompok ahli ekonomi dari tradisi neoklasik menyerang baik man power maupun Social Demand Approach dengan mengatakan bahwa kedua pendekatan tadi mengabaikan masalah alokasi biaya dan prinsip cost benefit. Pendekatan cost benefit didasarkan pada asumsi bahwa: (a) sumbangan seseorang terhadap pendapatan nasional adalah sebanding dengan tingkat pendidikannya, (b) perbedaan pendapat di masyarakat yang disebabkan oleh perbedaan dalam pendidikan dan bukan perbedaan kemampuan atau latar belakang sosial. Jadi pada dasarnya pendekatan cost benefit didasarkan pada keuntungan penambahan pendapatan seseorang karena pendidikan. Tapi kenyataannya untuk mengukur biaya dan keuntungan dalam pendidikan sangatlah sulit terlebih mengukur keuntungan untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu pendekatan ini pernah mendapat kritik dari pihak lain, diantaranya: (a) sangat sulit menghitung benefit yang dihasilkan oleh seseorang dalam lapangan kerja, (b) pendekatan ini mengabaikan hubungan antara penghasilan seseorang dengan kemampuan motivasi, kelas sosial dan sebagainya dan hanya melihat hubungan antara pendidikan dengan penghasilan, (c) perbedaan pendapatan yang menguntungkan orang-orang itu sendiri bukanlah menunjukkan kemampuan produktivitasnya, melainkan suatu konvensi sosial, dan keuntungan dari pendidikan tidak hanya berupa finansial tetapi keuntungan sosial, seperti: pengaruh baik yang diberikan untuk keluarga dan lain sebagainya.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Didalam pendidikan terdapat suatu perencanaan pendidikan yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan dan pengawasan bagi pelaku rencana (perencana). Perencanaan merupakan instrumen penting dalam suatu kegiatan. Didalam perencanaan pendidikan terdapat pendekatan perencanaan pendidikan. Pendekatan perencanaan pendidikan terdiri dari: pendekatan kebutuhan sosial yaitu pendekatan tentang tuntutan masyarakat akan pemerataan pendidikan dan pendekatan kebutuhan ketenagakerjaan yaitu pendekatan yang berkaitkan dengan pengembangan tenaga manusia melalui pendidikan, guna memenuhi tuntutan kebutuhan sektor perekonomian, sedangkan pendekatan efisiensi biaya merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara keuntungan dan kerugian pada saat menempuh pendidikan.  

DAFTAR RUJUKAN

Porniadi, Fiki. 2014. Tugas Perencanaan Pendidikan, (Online), (https://www.academia.edu/7479237/Tugas_Perencanaan_Pendidikan), diakses 15 Januari 2015.

Saud, Udin Syaefudin. 2011. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.








1 komentar:

Unknown mengatakan...

Terima Kasih atas artikelnya..
Sangat membantu sekali
Semoga semakin banyak orang yang membaca artikel ini...

Salam Sukses...

Posting Komentar

 
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul:
Ditulis Oleh
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih